Sebuah Persembahan Karya Pena


Minggu, 01 Juni 2014

About Something

Puncak gunung mahameru aku tak pernah tau,
Apalagi melihat keindahan sunrise di puncak gunung rinjani
Bunga edelweis mungkin tak seindah kelihatan bentuknya,
Tak sempurna seperti tulip yang tumbuh subur di tanah barat musim semi.
Tapi ia cukup bernilai karena tak mudah mencapainya di pinggir jurang terjal.
Hujan bulan juni mungkin milik Sapardi Djoko Damono,
Tapi November rain hanya milik aku dan kamu.
Tak sempurna hujan tanpa pelangi
Begitupun senja tanpa siluet cahaya di cakrawala.
Adam dan hawa mengerti bahwa mereka memang ditakdirkan berdua,
Tapi Romeo tak mengerti bahwa mati bukan jalan mendapatkan juliet sebagai cinta sejati.

Minggu, 20 April 2014

Ibu

https://www.youtube.com/watch?v=ssUoTDa8JsA&feature=youtube_gdata_player

Lembut kukenang, kasihmu ibu
Di dalam hati kukini menanggung rindu
Engkau tabur kasih, seumur masa
Bergetar syahdu oh di dalam nadiku

Sembilan bulan ku dalam rahimmu
Bersusah payah oh ibu jaga diriku
Sakit dan lemah tak kau hiraukan
Demi diriku oh ibu buah hatimu

Tiada kumampu membalas jasamu
Hanyalah doa oh disetiap waktu
Oh ibu tak henti kuharapkan doamu 2x
Mengalir di setiap nafasku 2x
Oh ibu, ibu, ibu

Indah bercanda denganmu ibu
Di dalam hati kukini slalu merindu
Sakit dan lelah tak kau hiraukan
Demi diriku oh ibu buah hatimu

Allahummafirlii waliwaa lidayya
Warhamhumma kamaa rabbayaani shaghriraa...

Lirik lagu di atas adalah soundtrack film hafalan shalat delisa. Ceritanya diangkat berdasarkan kisah nyata dari novel karya penulis ternama "darwis tereliye".
Hmm, setiap kali menonton film ini, jujur, aku selalu menitikan air mata. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan. Mengingatkan kita bagaimana caranya bersyukur meski hidup begitu sulit.
Selain itu, peristiwa tsunami yang menjadi latar cerita, seolah membawaku kembali pada keadaan dimana aku pernah mengalami peristiwa yang dialami si tokoh utama delisa. Sungguh, aku tidak bohong...air tsunami itu sangat mengerikan. Meninggalkan trauma yang berkepanjangan bagi orang-orang yang merasakan secara langsung. Di dalamnya sangat gelap, penuh dengan lumpur, rasanya membuat mual, tidak seenak air kopi atau milkshake coklat. Belum lagi bila kau tahu apa saja yang ada di dalamnya. Ada mobil, alat-alat rumah tangga, properti, pohon, kawat, genteng,  besi, motor, hewan-hewan liar seperti ular, buaya, binatang-binatang kecil berbahaya, dan tembok-tembok rumah. Mengerikan bukan? Belum lagi ketika air bah itu berputar-putar membawamu kesana kemari seperti ranting pohon yang tak berdaya. Bila tak kena apapun maka dia selamat, tapi bila salah satu benda itu mengenainya, maka ranting itu akan patah. Tiada guna engkau bisa berenang, meski seorang atlit renang sekalipun. Karna kau adalah manusia. Kita adalah manusia lemah tak berdaya. Yang tak memiliki kekuatan dan daya upaya tanpa pertolongan dari-Nya.
Maka cerita ini, ingin sekali kubagi. Ke dalam sebuah buku yang nantinya akan bercerita tentang sebuah peristiwa yang amat dahsyat pernah menjadi sejarah kehidupan anak manusia. Semoga aku bisa merampungkannya.
Tulisan itu akan aku persembahkan untuk ibuku, "Ira" adik perempuanku, fera, lia, dan kak nova.
Mereka adalah orang-orang penting yang pernah mewarnai hidupku. Mereka hilang karena peristiwa tsunami di minggu pagi 26 Desember 2004.
I love them :)

Senin, 27 Januari 2014

It's about "Tsunami"

Ada seorang teman bertanya padaku "mengapa kau suka sekali menulis tentang tsunami?"
Hmm, aku hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu.
Sebenarnya bukan aku tak ingin menjelaskannya. Tapi, rasa itu begitu sulit aku ungkapkan lewat kata-kata.

Tahukah kau kawan?
Bila disuruh untuk mengulang setiap tulisan tentang tsunami maka aku sanggup melakukannya berulang-ulang. Berapa kali pun kau suruh mengulangnya.
Mungkin terdengar menjenuhkan. Tapi, andai saja kau lihat dengan mata kepalamu bagaimana air bah itu datang melahap bak monster tazmanian...mungkin pertanyaan itu takkan pernah kau ulang-ulang.

Dan tahukah kau kawan?
Mengapa ada banyak orang semakin gila pasca bencana itu?
Karena logika mereka tak sanggup menilai dengan logika.
Bahkan aku pun hampir gila.
Mungkin kedengarannya membingungkan. Namun, cerita itu takkan pernah kutuliskan berulang-ulang bila aku tak pernah berpikir bahwa saat itu kiamat kan datang.
Juga meninggalkan trauma yang mendalam.

Baiklah kawan...
Maafkan bila aku terus mengenang.
Bukan maksud hati untuk larut agar jiwa tak tenang.
Melainkan sekedar mengingatkan...
Bahwa selamat dari bencana itu adalah kesempatan.

Selasa, 14 Januari 2014

Sebuah Kisah Klasik

Fera. Begitulah orang-orang memanggilnya. Dia sahabatku saat di bangku SMP di salah satu sekolah negeri di Banda Aceh. Sejak kelas 1 SMP kami sudah sekelas tapi tak pernah duduk sebangku. Dia ahlinya dalam bidang bahasa Inggris. Setiap mata pelajaran bahasa Inggris, dia begitu antusias mengikuti jam pelajaran. Sementara aku mlongo ngeliatin orang-orang pada ngomong Inggris, encer kayak air, sebab aku nggak ngerti apa yang mereka bicarakan. Soalnya aku anti sih sama pelajaran itu. Mata pelajaran yang paling aku benci itu bahasa Inggris. Nggak tau deh penyebabnya apa? Ribet mungkin, atau dulu guru-guru mata pelajaran itu emang rada-rada kiler sih. Tau deh. Yang jelas waktu itu sekali nggak suka ya nggak suka. Titik nggak pake koma. Tapi terlepas dari itu, akulah juaranya di bidang mata pelajaran yang lain. Sehingga aku dan Fera saling melengkapi satu sama lain.
Aku nggak ingat kapan persisnya kami mulai akrab. Semuanya mengalir begitu saja. Dari sama-sama ikut ekstra kurikuler Palang Merah Remaja, buat PR bareng, nginap bareng, setiap naik kelas selalu ditempatkan di kelas yang sama, sampai akhirnya mau buat band bersama untuk acara perpisahan sekolah. Tapi sayangnya band itu nggak pernah terbentuk dikarenakan nggak ada satu pun dari personilnya yang bisa mainin alat musik. Hihihi....memalukan. :D
Aku sangat sayang padanya. Aku suka memberikan kejutan-kejutan kecil agar bisa melihat dia tersenyum. Kami sering bercerita tentang cowok-cowok yang kami taksir. Mulai dari si A penyiar radio kesukaannya, sampai si B cowok idola sekolah yang menjadi incaran para cewek-cewek ababil yang digosipin jadi pacar aku. Sumpah demi apa? gara-gara tu cowok aku sampai dimusuhin sama cewek-cewek metal di sekolah. Aku pernah dilempari batu kerikil. Karena malas mencari perkara aku abaikan niat busuk mereka walau sebenarnya sakit sih dihujani kerikil yang lumayan besar itu. Semakin aku abaikan semakin semangat pula mereka melempariku dengan batu. hadehh! benar-benar cari perkara cewek-cewek nyebelin itu. tidak hanya itu, mereka juga mencari-cari tau mengenai hubungan aku sama tu cowok dari teman sebangkuku. Lucunya teman sebangkuku ini orangnya usil dan gokil abis. Dia sengaja mengarang-ngarang cerita yang membuat darah cewek-cewek rusuh itu makin mendidih. Hahahaha...betul-betul kelakuan anak-anak remaja kayak di senetron.
Kami memang selalu berbagi untuk hal apapun. Tapi, ada satu hal yang dirahasiakan Fera dariku. Demi menjaga rahasia besar itu dia tidak pernah mengijinkan aku untuk berkunjung ke rumahnya. Ia bilang suatu saat dia pasti akan mengajakku ke rumahnya, tapi tidak untuk saat ini. Aku tidak tau alasan apa yang membuat dia begitu kukuh. Tapi, aku menghormati keputusannya. Yang tampak adalah aku sering menemukan dia menangis tanpa sebab yang jelas. Dan aku yakin air matanya itu jatuh dikarenakan rahasia besarnya itu.
Tiga tahun bersama di bangku SMP. Tiba masa perpisahan kelas yang diadakan di pantai lampuuk. Aku memberikan sebuah kado istimewa untuknya. Satu pack kertas surat yang di dalamnya juga terdapat selembar kertas dengan tulisan berupa kata-kata perpisahan yang aku rangkai untuknya. Hmm, aku memang si tipe galau yang suka mendramatisir keadaan. Mungkin bagi sebagian orang kejadian itu adalah hal yang lumrah. Toh, ditahun ketiga SMA atau saat selesai kuliah nanti kita juga akan mengalami hal serupa. Tapi, bagiku perpisahan itu adalah hal yang paling menyedihkan. Karna kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi tak selalu ada. Jadilah aku menulis sepatah dua patah kata dengan bahasa sastraku untuknya. Aku tidak begitu ingat isinya. Karna kejadian itu sudah lama sekali. Yang jelas intinya adalah berupa ungkapan hatiku bahwa aku menganggapnya sahabat terbaikku. Dan aku menyelipkan sebuah lirik lagu milik Sheila on 7 disana "Sebuah Kisah Klasik".
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu.
Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi.
Bersenang-senanglah karna hari ini yang kan kita rindukan
Dihari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua
Sampai jumpa kawanku smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.
Sejak hari itu kami memang terpisah oleh jarak. Aku masuk di SMU 7 dan Fera di SMU 1. Namun, kami masih sering berkomunikasi lewat telepon rumah atau wartel. Maklum saja di zamanku dulu hp itu tergolong barang mewah. Jadi hanya orang-orang tertentulah yang memakainya. Tentu saja juga barang langka yang tak seperti membeli pisang goreng di zaman kini. Tapi, karna rekening telepon terus membengkak dan setiap hari kena omelan Mamak. Terpaksa aku dan Fera surat-suratan. Tetap ditulis di atas kertas, memakai amplop, tidak pakai prangko karna perantaranya bukan pak pos melainkan tetangga sahabatku yang juga teman organisasiku di Paskibraka di sekolah yang berbaik hati mempererat jalinan silaturrahim kami.
Isi surat itu membuat aku sedih karena ternyata ia menceritakan banyak hal termasuk rahasia besarnya yang selama ini ia tutupi dariku. Ia bilang ia malu jika harus menceritakan hal itu padaku. Aku sesak membaca suratnya, sesekali aku berhenti membaca untuk menyeka air mata yang bandel tak mau tertahan di pelupuk mata.
Tanpa pikir panjang, siang itu sepulang dari sekolah aku meminta teman paskibku itu untuk mengantarkan aku ke rumah Fera. Fera shock melihat kedatanganku. Ia salah tingkah dan tak tau harus bilang apa. Ia malu padaku. Kukatakan bahwa aku sahabatnya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi karna apa yang dialaminya itu adalah diluar kuasanya. Aku sangat mengerti mengapa ia malu dan wajar bila ia menyimpan rahasia itu dariku.
Sejak saat itu sudah tidak ada lagi yang ia tutup-tutupi dariku. Dan sejak itu pula aku melihat dia lebih sering tersenyum.
Sejak duduk di bangku SMU kami memang jarang bertemu. Hanya sesekali bila kami ada kesempatan dan bila dia punya masalah lalu datang menginap di rumah. Fera pernah mengajakku ke rumah kakaknya di kawasan Lhoknga, Aceh Besar. Suami dari kakaknya Fera itu adalah seorang Tentara. Jadi, mereka tinggal di asrama Tentara. Aku menikmati sekali masa-masa di daerah itu. Karena letaknya yang dekat dengan laut. Sehingga suara gemuruh ombak dan riuh pohon cemara terdengar jelas dari teras depan. Indah sekali...

Tiga tahun di SMU pun berlalu. Dan kami lanjut ke perguruan tinggi. Aku kuliah di pertanian dan sahabatku itu di hukum. Meski aku sudah menemukan sahabat-sahabat baru baik di SMU maupun di bangku kuliah, tapi nama fera tak pernah tercoret dari daftar sahabatku.

Hingga tiba di hari itu. Tanggal 26 Desember 2004. saat bencana itu hampir merengut nyawaku. Sebulan pasca penyembuhanku dari kota Medan setelah peristiwa itu. Aku datang berkunjung ke rumah Fera. Itu pun kulakukan karena firasatku tak enak. Sejak masa penyembuhan sampai akhirnya aku kembali ke tanah kelahirannku, aku terus terbayang-bayang sosok sahabatku itu. Dan ternyata firasatku terjawab saat aku berkunjung ke rumahnya. Benar! Ia juga menjadi salah satu korban peristiwa maha dahsyat itu. Pada saat kejadian ia menginap di rumah kakaknya. Begitu ayahnya memberi keterangan. Aku tak tau harus mengatakan apa. Perasaanku sudah bercampur aduk tak karuan. Karena begitu banyak orang-orang yang aku sayang menjadi korban. Hiks,,,menyedihkan sekali bila ingat peristiwa itu.
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Semua yang pernah aku alami bersama orang-orang yang aku sayangi bagai angin yang datang silih berganti. Tak kusangka kalimat perpisahan yang pernah aku ucap di hari terakhir SMP itu benar-benar terjadi. Seharusnya aku memang tak perlu terkejut. Toh, cepat atau lambat perpisahan itu pasti terjadi. Hanya tinggal menghitung waktu saja. Karena semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Semua akan kembali padanya tak terkecuali aku.
Biarlah kebersamaan kita selama ini akan menjadi sebuah kisak klasik yang akan terus terukir di dalam hati kita masing-masing.
I Love them ♥

Kamis, 26 Desember 2013

9 Tahun Yang Lalu (Tsunami Aceh 26 Desember 2004)

Deungoe lon kisah saboh riwayat...
Kisah baroe that baro that di Aceh Raya...
Lam Karu Aceh, Aceh, Timoe ngon Barat ngon Barat...
Di saboh tempat, tempat, munoe ceritra...
#Rafly_Aneuk Yatim

9 tahun yang lalu keadaan Aceh masih mencekam. Hujan peluru dimana-mana. Letusan bom sudah menjadi makanan sehari-hari. Tidur tak nyaman di malam hari sering dirasakan. Dan perubahan terjadi karena peristiwa besar.
Tepat tanggal ini. Pukul 08.00 WIB di bumi Aceh pernah terjadi bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah hidup anak manusia. Sekitar 238.000 jiwa menjadi korban. Separuh daratan rata dengan tanah.
Tak ada yang tahu bencana itu akan datang. karena masing-masing orang sedang melakukan aktivitas di minggu pagi nan cerah. Tamasya ke pantai, jogging di lapangan Blang Padang, atau sekedar bercanda gurau dengan keluarga di rumah.
Tiba-tiba bumi bergoncang 9,00 SR. merubuhkan beberapa bangunan dan menewaskan beberapa orang.

Tak lama, gelombang air setinggi 9 meter datang menerjang. menghantam apa saja yang ditemuinya dan meluluhlantakkan Serambi Mekkah. Mengerikan sekali. Tak pernah terbayangkan. dan kita takkan mampu berbuat apa-apa. Bahkan seorang atlet renang sekalipun takkan mampu menghalau tumpukan-tumpukan pohon, bangunan, properti, manusia, hewan dan segala bentuk ada di dalamnya.

 

 Semua orang berlari menyelamatkan diri. Mengungsi. Tak hiraukan lagi apa yang terjadi. Mengakibatkan kemacetan dimana-mana. Sehingga menimbulkan korban lagi akibat kecelakaan lalu lintas.

 

Tinggalah kehancuran dan kesedihan yang tersisa. Semua orang menangis, bahkan dunia berduka mendengar kabar ini.

 
 


Semua dalam keadaan yang sama. Kembali menjadi nol. Tak memiliki apa-apa. Dan saat itulah rasa kemanusiaan itu timbul. Meski tak saling kenal, meski bukan sanak saudara. Setiap orang saling menolong satu sama lain.


Bantuan kemanusiaan pun datang dari berbagai belahan bumi. Turki, Jerman, Jepang, Yunani, Inggris, Portugal, Amerika, dan banyak lagi lainnya.


Pasca Tsunami cuaca sangat mencekam. Gempa susulan terus terjadi. Listrik masih padam. Sumber air bersih masih sulit didapat. Pom Bensin panjang antrian. Angin topan kecil sering terjadi. Halilintar terlihat jelas di langit-langit. Sebagian orang tinggal di pengungsian dan di rumah sanak saudara yang tidak terkena Tsunami.

 Proses pemulihan berlangsung berbulan-bulan. Sampai setahun para relawan pun kembali ke negara asal. berbagai infrastruktur terus mengalami perbaikan. dan untuk mengenang tragedi tersebut pemerintah menjadikan sebuah kapal PLTD sebagai monumen. Kapal yang terseret sejauh lebih kurang 3 meter dari laut ke pemukiman warga di desa Punge Blang Cut, Banda Aceh. Selain itu, pemerintah juga mendirikan sebuah museum Tsunami.


 






Setiap tanggal 26 Desember masyarakat Aceh memperingati tragedi Tsunami.





 Disini, disana, kita semua sama...
dan kini kuhanya ingin sembuhkan luka...
biarlah yang telah berlalu jadi makna berarti...
kuingin Indonesia tersenyum...
Dengarlah, resapi, ini pasti teguran...
mungkin kami lengah banyak menimbun dosa...
oh Tuhan berikan ampunmu...
kuatkanlah semua...
hapus duka dan sembuhkan luka...




#Setiap kejadian pasti mengandung hikmah







"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [al Baqarah/2:155-157]



Minggu, 22 Desember 2013

Happy Mothers Day Mom...We Miss U

Ibu...hari ini adalah hari ibu sedunia. Ada banyak sekali para anak yang mengekspresikan cintanya di hari Ibu. Mulai dari menggantikan pekerjaan rumah Ibunya, Ibunya dalam satu hari ini tidak dibolehkan bekerja cukup bersantai dan berleha-leha di rumah. Ada juga yang memberikan kado spesial, memberikan bunga, membuat puisi, mengajak jalan-jalan dan masih banyak lagi persembahan sang anak untuk ibunya.
Tapi, kami disini sudah tidak bisa melakukan itu lagi. Kami tidak bisa mengajakmu jalan-jalan, memberikan kado spesial walau seluruh pekerjaanmu sudah aku gantikan sejak 9 tahun yang lalu. Sejak tragedi Tsunami menghilangkan jejakmu.
Ibu...kami rindu padamu. Kami rindu masakanmu. Kami rindu suara tegasmu saat marah melihat kami yang suka berkelahi dan malas belajar. Kami rindu pergi ke pasar bersamamu dan dibelikan baju baru satu bulan menjelang hari raya tiba. Kami rindu mencari uban di kepalamu lalu beralasan ini itu karena malas dan mulai bosan. Kami rindu dibersihkan daun telinga dengan minyak makan dan dicarikan kutu. Kami rindu memelukmu dan ingin menangis di pangkuanmu. Karena kami ingin curhat ibu...
Ibu...sekarang kehidupan kami sangat baik. Kami hidup dengan akur dan tak pernah berkelahi lagi. Kami sedang dalam proses belajar meraih cita-cita. Dan Alhamdulillah 3 dari keempat anakmu sudah selesai sekolah.
Ibu...kami hanya tinggal berempat di rumah kita. Rumah kita yang sederhana yang dulu kita bangun bersama. Di rumah kita yang dulu ingin kami tinggalkan karena trauma Tsunami, tapi tak jadi karena begitu banyak kenangan disana.
Ibu...ayah sekarang semakin tua. Ia melewati masa pensiunannya dengan berkebun dan ke sawah di kampung halaman. Seperti keinginan yang pernah kalian sampaikan dulu pada kami sebelum ayah pensiun.
Ibu...meski kini kami hidup tanpamu. Tapi engkau selalu hidup dihati kami selalu dan selamanya.
We always ♥ u Mom

^_^



Rabu, 09 Oktober 2013

 "You Made Me Find My Self" by: Lenn Rimes


Bet you thought my world was over
Bet you though I'd crash and burn
You thought I'd never
Pick myself up off the floor
But baby you were wrong
Just like before

I used to breathe you
I used to need you
I used to hang on every word
that you say
It used to please you
To try to make me
someone else
And I thank you from
My heart for your help
Cause you made me find myself

I used to think if I surrendered
I'd be the perfect one for you
But I swear I can't remember
A single day of happiness with you

[Chorus]

No I'm not going back in time
And there's a price for being
strong
But I can live with who I am

[Chorus]

You made me find my dreams
You made me find my love
You made me find myself
Thank you, thank you