Sebuah Persembahan Karya Pena


Selasa, 14 Januari 2014

Sebuah Kisah Klasik

Fera. Begitulah orang-orang memanggilnya. Dia sahabatku saat di bangku SMP di salah satu sekolah negeri di Banda Aceh. Sejak kelas 1 SMP kami sudah sekelas tapi tak pernah duduk sebangku. Dia ahlinya dalam bidang bahasa Inggris. Setiap mata pelajaran bahasa Inggris, dia begitu antusias mengikuti jam pelajaran. Sementara aku mlongo ngeliatin orang-orang pada ngomong Inggris, encer kayak air, sebab aku nggak ngerti apa yang mereka bicarakan. Soalnya aku anti sih sama pelajaran itu. Mata pelajaran yang paling aku benci itu bahasa Inggris. Nggak tau deh penyebabnya apa? Ribet mungkin, atau dulu guru-guru mata pelajaran itu emang rada-rada kiler sih. Tau deh. Yang jelas waktu itu sekali nggak suka ya nggak suka. Titik nggak pake koma. Tapi terlepas dari itu, akulah juaranya di bidang mata pelajaran yang lain. Sehingga aku dan Fera saling melengkapi satu sama lain.
Aku nggak ingat kapan persisnya kami mulai akrab. Semuanya mengalir begitu saja. Dari sama-sama ikut ekstra kurikuler Palang Merah Remaja, buat PR bareng, nginap bareng, setiap naik kelas selalu ditempatkan di kelas yang sama, sampai akhirnya mau buat band bersama untuk acara perpisahan sekolah. Tapi sayangnya band itu nggak pernah terbentuk dikarenakan nggak ada satu pun dari personilnya yang bisa mainin alat musik. Hihihi....memalukan. :D
Aku sangat sayang padanya. Aku suka memberikan kejutan-kejutan kecil agar bisa melihat dia tersenyum. Kami sering bercerita tentang cowok-cowok yang kami taksir. Mulai dari si A penyiar radio kesukaannya, sampai si B cowok idola sekolah yang menjadi incaran para cewek-cewek ababil yang digosipin jadi pacar aku. Sumpah demi apa? gara-gara tu cowok aku sampai dimusuhin sama cewek-cewek metal di sekolah. Aku pernah dilempari batu kerikil. Karena malas mencari perkara aku abaikan niat busuk mereka walau sebenarnya sakit sih dihujani kerikil yang lumayan besar itu. Semakin aku abaikan semakin semangat pula mereka melempariku dengan batu. hadehh! benar-benar cari perkara cewek-cewek nyebelin itu. tidak hanya itu, mereka juga mencari-cari tau mengenai hubungan aku sama tu cowok dari teman sebangkuku. Lucunya teman sebangkuku ini orangnya usil dan gokil abis. Dia sengaja mengarang-ngarang cerita yang membuat darah cewek-cewek rusuh itu makin mendidih. Hahahaha...betul-betul kelakuan anak-anak remaja kayak di senetron.
Kami memang selalu berbagi untuk hal apapun. Tapi, ada satu hal yang dirahasiakan Fera dariku. Demi menjaga rahasia besar itu dia tidak pernah mengijinkan aku untuk berkunjung ke rumahnya. Ia bilang suatu saat dia pasti akan mengajakku ke rumahnya, tapi tidak untuk saat ini. Aku tidak tau alasan apa yang membuat dia begitu kukuh. Tapi, aku menghormati keputusannya. Yang tampak adalah aku sering menemukan dia menangis tanpa sebab yang jelas. Dan aku yakin air matanya itu jatuh dikarenakan rahasia besarnya itu.
Tiga tahun bersama di bangku SMP. Tiba masa perpisahan kelas yang diadakan di pantai lampuuk. Aku memberikan sebuah kado istimewa untuknya. Satu pack kertas surat yang di dalamnya juga terdapat selembar kertas dengan tulisan berupa kata-kata perpisahan yang aku rangkai untuknya. Hmm, aku memang si tipe galau yang suka mendramatisir keadaan. Mungkin bagi sebagian orang kejadian itu adalah hal yang lumrah. Toh, ditahun ketiga SMA atau saat selesai kuliah nanti kita juga akan mengalami hal serupa. Tapi, bagiku perpisahan itu adalah hal yang paling menyedihkan. Karna kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi tak selalu ada. Jadilah aku menulis sepatah dua patah kata dengan bahasa sastraku untuknya. Aku tidak begitu ingat isinya. Karna kejadian itu sudah lama sekali. Yang jelas intinya adalah berupa ungkapan hatiku bahwa aku menganggapnya sahabat terbaikku. Dan aku menyelipkan sebuah lirik lagu milik Sheila on 7 disana "Sebuah Kisah Klasik".
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu.
Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi.
Bersenang-senanglah karna hari ini yang kan kita rindukan
Dihari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua
Sampai jumpa kawanku smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.
Sejak hari itu kami memang terpisah oleh jarak. Aku masuk di SMU 7 dan Fera di SMU 1. Namun, kami masih sering berkomunikasi lewat telepon rumah atau wartel. Maklum saja di zamanku dulu hp itu tergolong barang mewah. Jadi hanya orang-orang tertentulah yang memakainya. Tentu saja juga barang langka yang tak seperti membeli pisang goreng di zaman kini. Tapi, karna rekening telepon terus membengkak dan setiap hari kena omelan Mamak. Terpaksa aku dan Fera surat-suratan. Tetap ditulis di atas kertas, memakai amplop, tidak pakai prangko karna perantaranya bukan pak pos melainkan tetangga sahabatku yang juga teman organisasiku di Paskibraka di sekolah yang berbaik hati mempererat jalinan silaturrahim kami.
Isi surat itu membuat aku sedih karena ternyata ia menceritakan banyak hal termasuk rahasia besarnya yang selama ini ia tutupi dariku. Ia bilang ia malu jika harus menceritakan hal itu padaku. Aku sesak membaca suratnya, sesekali aku berhenti membaca untuk menyeka air mata yang bandel tak mau tertahan di pelupuk mata.
Tanpa pikir panjang, siang itu sepulang dari sekolah aku meminta teman paskibku itu untuk mengantarkan aku ke rumah Fera. Fera shock melihat kedatanganku. Ia salah tingkah dan tak tau harus bilang apa. Ia malu padaku. Kukatakan bahwa aku sahabatnya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi karna apa yang dialaminya itu adalah diluar kuasanya. Aku sangat mengerti mengapa ia malu dan wajar bila ia menyimpan rahasia itu dariku.
Sejak saat itu sudah tidak ada lagi yang ia tutup-tutupi dariku. Dan sejak itu pula aku melihat dia lebih sering tersenyum.
Sejak duduk di bangku SMU kami memang jarang bertemu. Hanya sesekali bila kami ada kesempatan dan bila dia punya masalah lalu datang menginap di rumah. Fera pernah mengajakku ke rumah kakaknya di kawasan Lhoknga, Aceh Besar. Suami dari kakaknya Fera itu adalah seorang Tentara. Jadi, mereka tinggal di asrama Tentara. Aku menikmati sekali masa-masa di daerah itu. Karena letaknya yang dekat dengan laut. Sehingga suara gemuruh ombak dan riuh pohon cemara terdengar jelas dari teras depan. Indah sekali...

Tiga tahun di SMU pun berlalu. Dan kami lanjut ke perguruan tinggi. Aku kuliah di pertanian dan sahabatku itu di hukum. Meski aku sudah menemukan sahabat-sahabat baru baik di SMU maupun di bangku kuliah, tapi nama fera tak pernah tercoret dari daftar sahabatku.

Hingga tiba di hari itu. Tanggal 26 Desember 2004. saat bencana itu hampir merengut nyawaku. Sebulan pasca penyembuhanku dari kota Medan setelah peristiwa itu. Aku datang berkunjung ke rumah Fera. Itu pun kulakukan karena firasatku tak enak. Sejak masa penyembuhan sampai akhirnya aku kembali ke tanah kelahirannku, aku terus terbayang-bayang sosok sahabatku itu. Dan ternyata firasatku terjawab saat aku berkunjung ke rumahnya. Benar! Ia juga menjadi salah satu korban peristiwa maha dahsyat itu. Pada saat kejadian ia menginap di rumah kakaknya. Begitu ayahnya memberi keterangan. Aku tak tau harus mengatakan apa. Perasaanku sudah bercampur aduk tak karuan. Karena begitu banyak orang-orang yang aku sayang menjadi korban. Hiks,,,menyedihkan sekali bila ingat peristiwa itu.
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Semua yang pernah aku alami bersama orang-orang yang aku sayangi bagai angin yang datang silih berganti. Tak kusangka kalimat perpisahan yang pernah aku ucap di hari terakhir SMP itu benar-benar terjadi. Seharusnya aku memang tak perlu terkejut. Toh, cepat atau lambat perpisahan itu pasti terjadi. Hanya tinggal menghitung waktu saja. Karena semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Semua akan kembali padanya tak terkecuali aku.
Biarlah kebersamaan kita selama ini akan menjadi sebuah kisak klasik yang akan terus terukir di dalam hati kita masing-masing.
I Love them ♥

Kamis, 26 Desember 2013

9 Tahun Yang Lalu (Tsunami Aceh 26 Desember 2004)

Deungoe lon kisah saboh riwayat...
Kisah baroe that baro that di Aceh Raya...
Lam Karu Aceh, Aceh, Timoe ngon Barat ngon Barat...
Di saboh tempat, tempat, munoe ceritra...
#Rafly_Aneuk Yatim

9 tahun yang lalu keadaan Aceh masih mencekam. Hujan peluru dimana-mana. Letusan bom sudah menjadi makanan sehari-hari. Tidur tak nyaman di malam hari sering dirasakan. Dan perubahan terjadi karena peristiwa besar.
Tepat tanggal ini. Pukul 08.00 WIB di bumi Aceh pernah terjadi bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah hidup anak manusia. Sekitar 238.000 jiwa menjadi korban. Separuh daratan rata dengan tanah.
Tak ada yang tahu bencana itu akan datang. karena masing-masing orang sedang melakukan aktivitas di minggu pagi nan cerah. Tamasya ke pantai, jogging di lapangan Blang Padang, atau sekedar bercanda gurau dengan keluarga di rumah.
Tiba-tiba bumi bergoncang 9,00 SR. merubuhkan beberapa bangunan dan menewaskan beberapa orang.

Tak lama, gelombang air setinggi 9 meter datang menerjang. menghantam apa saja yang ditemuinya dan meluluhlantakkan Serambi Mekkah. Mengerikan sekali. Tak pernah terbayangkan. dan kita takkan mampu berbuat apa-apa. Bahkan seorang atlet renang sekalipun takkan mampu menghalau tumpukan-tumpukan pohon, bangunan, properti, manusia, hewan dan segala bentuk ada di dalamnya.

 

 Semua orang berlari menyelamatkan diri. Mengungsi. Tak hiraukan lagi apa yang terjadi. Mengakibatkan kemacetan dimana-mana. Sehingga menimbulkan korban lagi akibat kecelakaan lalu lintas.

 

Tinggalah kehancuran dan kesedihan yang tersisa. Semua orang menangis, bahkan dunia berduka mendengar kabar ini.

 
 


Semua dalam keadaan yang sama. Kembali menjadi nol. Tak memiliki apa-apa. Dan saat itulah rasa kemanusiaan itu timbul. Meski tak saling kenal, meski bukan sanak saudara. Setiap orang saling menolong satu sama lain.


Bantuan kemanusiaan pun datang dari berbagai belahan bumi. Turki, Jerman, Jepang, Yunani, Inggris, Portugal, Amerika, dan banyak lagi lainnya.


Pasca Tsunami cuaca sangat mencekam. Gempa susulan terus terjadi. Listrik masih padam. Sumber air bersih masih sulit didapat. Pom Bensin panjang antrian. Angin topan kecil sering terjadi. Halilintar terlihat jelas di langit-langit. Sebagian orang tinggal di pengungsian dan di rumah sanak saudara yang tidak terkena Tsunami.

 Proses pemulihan berlangsung berbulan-bulan. Sampai setahun para relawan pun kembali ke negara asal. berbagai infrastruktur terus mengalami perbaikan. dan untuk mengenang tragedi tersebut pemerintah menjadikan sebuah kapal PLTD sebagai monumen. Kapal yang terseret sejauh lebih kurang 3 meter dari laut ke pemukiman warga di desa Punge Blang Cut, Banda Aceh. Selain itu, pemerintah juga mendirikan sebuah museum Tsunami.


 






Setiap tanggal 26 Desember masyarakat Aceh memperingati tragedi Tsunami.





 Disini, disana, kita semua sama...
dan kini kuhanya ingin sembuhkan luka...
biarlah yang telah berlalu jadi makna berarti...
kuingin Indonesia tersenyum...
Dengarlah, resapi, ini pasti teguran...
mungkin kami lengah banyak menimbun dosa...
oh Tuhan berikan ampunmu...
kuatkanlah semua...
hapus duka dan sembuhkan luka...




#Setiap kejadian pasti mengandung hikmah







"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [al Baqarah/2:155-157]



Minggu, 22 Desember 2013

Happy Mothers Day Mom...We Miss U

Ibu...hari ini adalah hari ibu sedunia. Ada banyak sekali para anak yang mengekspresikan cintanya di hari Ibu. Mulai dari menggantikan pekerjaan rumah Ibunya, Ibunya dalam satu hari ini tidak dibolehkan bekerja cukup bersantai dan berleha-leha di rumah. Ada juga yang memberikan kado spesial, memberikan bunga, membuat puisi, mengajak jalan-jalan dan masih banyak lagi persembahan sang anak untuk ibunya.
Tapi, kami disini sudah tidak bisa melakukan itu lagi. Kami tidak bisa mengajakmu jalan-jalan, memberikan kado spesial walau seluruh pekerjaanmu sudah aku gantikan sejak 9 tahun yang lalu. Sejak tragedi Tsunami menghilangkan jejakmu.
Ibu...kami rindu padamu. Kami rindu masakanmu. Kami rindu suara tegasmu saat marah melihat kami yang suka berkelahi dan malas belajar. Kami rindu pergi ke pasar bersamamu dan dibelikan baju baru satu bulan menjelang hari raya tiba. Kami rindu mencari uban di kepalamu lalu beralasan ini itu karena malas dan mulai bosan. Kami rindu dibersihkan daun telinga dengan minyak makan dan dicarikan kutu. Kami rindu memelukmu dan ingin menangis di pangkuanmu. Karena kami ingin curhat ibu...
Ibu...sekarang kehidupan kami sangat baik. Kami hidup dengan akur dan tak pernah berkelahi lagi. Kami sedang dalam proses belajar meraih cita-cita. Dan Alhamdulillah 3 dari keempat anakmu sudah selesai sekolah.
Ibu...kami hanya tinggal berempat di rumah kita. Rumah kita yang sederhana yang dulu kita bangun bersama. Di rumah kita yang dulu ingin kami tinggalkan karena trauma Tsunami, tapi tak jadi karena begitu banyak kenangan disana.
Ibu...ayah sekarang semakin tua. Ia melewati masa pensiunannya dengan berkebun dan ke sawah di kampung halaman. Seperti keinginan yang pernah kalian sampaikan dulu pada kami sebelum ayah pensiun.
Ibu...meski kini kami hidup tanpamu. Tapi engkau selalu hidup dihati kami selalu dan selamanya.
We always ♥ u Mom

^_^



Rabu, 09 Oktober 2013

 "You Made Me Find My Self" by: Lenn Rimes


Bet you thought my world was over
Bet you though I'd crash and burn
You thought I'd never
Pick myself up off the floor
But baby you were wrong
Just like before

I used to breathe you
I used to need you
I used to hang on every word
that you say
It used to please you
To try to make me
someone else
And I thank you from
My heart for your help
Cause you made me find myself

I used to think if I surrendered
I'd be the perfect one for you
But I swear I can't remember
A single day of happiness with you

[Chorus]

No I'm not going back in time
And there's a price for being
strong
But I can live with who I am

[Chorus]

You made me find my dreams
You made me find my love
You made me find myself
Thank you, thank you

Selasa, 27 Agustus 2013

Uideo nyanyi brenk anak komplek P.U ajun belakang


Kami adalah sekumpulan anak-anak komplek P.U Ajun, terutama di deretan rumah paling belakang, persahabatan kami bermula sejak kami masih kecil. saat orang tua kami di tugaskan di dinas Pekerjaan Umum dan tentu saja tinggal di perumahan dinas tersebut. sampai akhirnya terbentuklah persahabatan itu. Usia kami tidak ada yang sama, semuanya berbeda...masing-masing selisih satu sampai tiga tahun. dari yang termuda sampai yang tertua.hehhe...
dulu, saat kami masih kecil, kami sering main masak-masakan bersama, bermain aseng lost, "kring-kring Olala....apa kabar dunia???" Mhm....acara yang dulu sering ditayangkan di salah satu televisi swasta itu sering kami mainkan setiap sore di rumah dila. dan tentu saja ide itu muncul dari saya sebagai kakak tertua alias "mak Cut" hihihihihi....setelah acara selesai setiap peserta akan diberikan bingkisan yang berisi 2 buah permen...hahahaha...murah meriah memang...dan tau apa? modal untuk beli permen tersebut di dapat dari hasil dikumpulkan dari peserta yang mau ikut acara, kesimpulannya ya sama aja, yang mau ikut harus ngeluarin uang celatus (dalam bahasa alay) dulu...hihihi...kalau zaman dulu seratus rupiah itu bisa ngedapetin 3 buah permen.
sampai dewasa, kami masih sering berkumpul bersama, walau ya masing-masing udah kesana kemari...tapi, setiap ada kesempatan kami selalu mengusahakan untuk kumpul bareng...bisa ke pantai, makan, atau cuma sekedar ngumpul-ngumpul di rumah Irna yang biasa kami jadikan sebagai posko.

 


video yang satu ini nggak sengaja direkam...
and kalau dengar video ini jadi kangen...
kenang-kenangan yang gak bakalan terlupakan...
Lucu...sedih...haru...semua bercampur jadi satu...
kekompakan kita akan selalu dikenang di hari tua nanti...
walau masing-masing beda usia, tapi kita tetap akan selalu bersama...
Sorry kalau baru foto ini yang di upload., soalnya ini buatnya juga mendadak dangdut..
ntar kalau sempat kakak upload yang lain ya...hehehe
Miss U my Sista...
Love....love..love..love

Kamis, 15 Agustus 2013

Rokok













Rokok...
mungkin bisa dikatakan bahwa aku cukup tidak senang dengan benda yang satu ini.
bukan hanya karena rokok itu sudah membuat aku alergi,
tapi, bagiku, benda yang satu ini terlalu mengganggu dan merusak sekitar
tidak bermanfaat sama sekali, dan sungguh sangat merusak.
aku dapat mencium bau asap rokok dari radius 100 meter, seperti itulah aku begitu alergi akan benda itu.
mungkin, bagi sebagian orang merasa hebat telah merokok
atau mungkin mereka bisa menghilangkan jenuh dan kepenatan, lalu melupakan masalah mereka untuk sementara dengan merokok.
tapi, menurutku itu sama sekali tidak hebat. justru dengan mereka merokok, mereka telah memperlihatkan bahwa mereka adalah seorang pengecut dan tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi.
Namun, masalah rokok di negeriku sungguh menjadi dilema tersendiri.
devisa negara terbesar justru dihasilkan dari rokok, sangat disayangkan sekali.
padahal dampak dari rokok tersebut justru lebih besar dibandingkan pendapatan yang dihasilkan.
mhm...aku memang tidak suka dengan benda yang satu itu,
tapi, caraku menunjukkan rasa tidak suka ku bukan dengan marah-marah atau memprotes setiap kali melihat orang-orang yang merokok.
dengan cara yang halus maka aku akan menegur mereka
karena aku tahu, tidak mudah bagi seorang perokok untuk lepas dari ketergantungan merokok
walaupun mereka tahu bahwa rokok itu tidak baik untuk kesehatan
dan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terlepas dari ketergantungan tersebut.
jadi, bagi yang belum pernah merokok maka jangan pernah mencoba untuk merokok.

Smoke

Cigarette ...
may be said that I am not quite happy with this one thing.
not only because it has made ​​me cigarettes allergies,
but, for me, one thing that is very disturbing and damaging around
no benefit at all, and it is very damaging.
I can smell cigarette smoke from a radius of 100 meters, as that's the thing I'm so allergic to it.
may, for some people feeling great has smoked
or maybe they could eliminate saturated and fatigue, and forget their problems for a while with smoke.
but, I think it's totally great. smoked it with them, they have shown that they are a coward and does not have a high enough confidence.
However, cigarette issue in my country really become a dilemma.
it is the biggest foreign exchange generated from cigarettes, very unfortunate.
whereas the impact of the cigarette it is greater than the revenue generated.
mhm ... I was not displeased with that one,
but, the way I show my distaste is not to get angry or protesting every time I see the people who smoke.
in a subtle way then I will find
because I know, not easy for a smoker to smoke escape from dependence
even though they know that smoking is not good for health
and they need a long time to get rid of the addiction.
so, those who have never smoked so do not ever try to smoke.